Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » PKS, Partainya Balita, Contohkan Model Demokrasi

PKS, Partainya Balita, Contohkan Model Demokrasi


By: Abul Ezz Senin, 06 Januari 2014 0


pkssiak.org - Oleh: M. R. Aulia

Di penghujung tahun 2013 lalu, sebuah partai yang mayoritas digawangi oleh anak-anak muda berusia balita, di bawah 50 tahun, mencoba mengenalkan model pemilihan calon pemimpin di antara mereka. Mereka memberi nama Pemira. Pemilihan raya yang menetapkan beberapa calon kuat yang akan dijagokan menjadi calon presiden RI.

Ratusan ribu kader yang tergabung dengan sistem kaderisasi partai balita di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri, serentak menggunakan suara mereka. Dari 22 calon yang diusungkan, akhirnya mengerucut menjadi limabesar nama bakal calon. Mereka adalah Anis Matta, presiden partai, Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua MPR RI, Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, Tifatul Sembiring, Menkominfo RI, Nurmahmudi Ismail, Walikota Depok.

Model dan sistem unik diprakarsai oleh para anak balita di partai ini. Seandainya publik umum memperhatikan cara mereka, banyak hal yang tidak dilakukan lembaga penghasil pemimpin lain di negeri ini, yaitu partai politik. Sang presiden partai @anismatta. Tidak serta-merta jumawa mencalonkan dirinya sebagai calon presiden RI. Seperti partai politik kebanyakan. Yang lebih diutamakan dan mencalonkan diri sebagai presiden adalah mereka yang sedang menduduki jabatan ketua umum suatu partai.

Jika mau jujur melihat dinamika dan pergolakan menuju kursi pimpinan. Banyak kisruh dan kejadian yang tidak seharusnya terjadi. Gontok-gontokan dan saling sikut demi pencapaian kursi pimpinan di suatu partai. Tidak hanya di level nasional. Tingkat daerah saja, para calon dan pendukungnya jarang sekali terlihat santun dalam berdemokrasi. Dan ujung-ujungnya, kursi pimpinan di suatu partai, hanya menjadi batu lompatan (Jumping Stone) agar dicalonkan sebagai bupati, walikota, gubernur bahkan presiden.

Meskipun belum semua dan tidak sesempurna yang diharapkan. Partai balita ini telah mencoba memberikan contoh demokrasi ala mereka. Pucuk pimpinan suatu partai biasanya tidak otomatis dicalonkan sebagai pimpinan di negeri ini. Menterikah, atau presiden. Anis Matta yang masuk dalam dua besar pilihan internal partai, merasa tidak tinggi hati. Ia lebih mempersilakan Hidayat Nur Wahid untuk mencalonkan diri sebagai presiden RI.

Sementara itu, HNW pun tidak mudah dan tidak refleks berbangga ria. Ia malah melemparkan kesempatan itu kepada Anis Matta. Saling melemparkan tawaran dan posisi emas. Dan keputusannya tetap berada di majelis syuro. Bukti tak ada ambisi mereka sebagai pribadi. Sebuah model keterpilihan pemimpin yang masih jarang dilakukan banyak politisi di negeri ini. Meskipun dua figur tertinggi hasil pemira internal partai banyak diragukan publik.

Jauh sebelum itu, ada hal lain yang luput dari perhatian banyak orang. Publik tidak melihat model dan cara lain berpolitik yang ditunjukan partai balita tersebut. Proses pergantian nahkoda puncak partai tidak berlangsung lama pasca penahanan LHI. Hanya berselang dua hari saja, Anis Matta naik menjadi ketua umum atau presiden sebagaimana partai balita mengistilahkannya.

Tidak ada keributan dan perebutan kursi kepemimpinan. Seperti halnya munaslub atau rapat-rapat tegang lainnya dalam menentukan pucuk pimpinan, sebagaimana yang sering terjadi di lembaga politik lainnya. Hampir semua kader menerima putusan tersebut dan kader se-Indonesia merelakannya.

Saya melihat banyak yang pesimis. Tidak percaya bahwa partai politik dapat menjadi salah satu lembaga penghasil pemimpin yang legal di negeri ini. Sepertinya, hampir tidak ada, manusia sekelas dewapun yang bisa menduduki kursi puncak dalam jabatan politis tanpa menumpang sebuah kendaraan politik, apalagi jabatan sekelas RI 1.


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Komentar sehat anda..