Bangun dan tidak Takut untuk Jatuh [Catatan Pembelajaran]| By @UdaIrfan
By: Abul Ezz
Rabu, 08 Januari 2014
0
pkssiak.org - Dia
termenung, perhitungan suara sudah selesai. Calonnya kalah telak. Ia
seperti tidak percaya akan angka – angka di papan hitung. Rasanya
seperti kerja keras, kerja ikhlas yang ia lakukan tak berarti. Apa yang
salah ? Calon yang diusungnya adalah tokoh nasional, tokoh yang pernah
menjadi orang nomor satu di lembaga tinggi negeri ini. Calon yang
reputasinya tidak diragukan, merakyat, sederhana, tapi kalah.
Menang, tokoh ini muncul dari daerah, bukan tokoh nasional, penampilannya memukau. Ia pertama kali melihat tokoh ini berorasi di depan universitas tempat ia menuntut ilmu. Ia akui orasinya memukau. Hanya ia tak percaya ternyata tokoh ini berhasil menang, menjadi kuda hitam dan menang.
Rakyat tempat ia tinggal butuh sosok baru. Pempimpin petahana dianggap tidak memuaskan. Gelar dan pengalaman yang lama tak memuaskan rakyat. Mereka ingin yang baru, tokoh ini datang dan memuaskan keinginan. Ia menang dan rakyat menunggu.
Selalu kemenangan dan kekalahah memberikan catatan. Dia akhirnya paham kenapa tokoh ini kalah. Mereka memang bekerja dengan keras dan ikhlas, namun mereka masih memakai cara yang tidak pas dengan zaman hari ini. Mereka terpukau dengan cara ketika dulu mereka menang di tempat ini. Kemewahan barisan yang rapih dan pelayanan yang tertib. Mereka lupa kali ini mereka sudah ditiru dan peniru sudah mengemas dengan lebih rapih dan profesional. Mereka lupa dan mereka kalah.
Kalah memang menyakitkan, siapa yang tak sakit ? saat anda merasa sudah mengerahkan kerja keras dan ternyata anda kalah. Kalah memberikan satu sisi yang lain, yaitu belajar. Para pembelajar terbaik paham betul mereka butuh mengalami kegagalan, kekalahan sementara untuk bisa bangkit dan belajar.
Hari ini ia mulai belajar. Belajar untuk memakai cara baru, bahasa baru, dan lebih penting mereka mempelajari bahwa mereka kumpulan orang yang tak letih belajar. Mereka kumpulan Daud yang belajar bahwa katapel yang kecil bisa mengalahkan jalut, sang raksasa dengan baju zirahnya.
Sudah siapkah katapel anda?
Menang, tokoh ini muncul dari daerah, bukan tokoh nasional, penampilannya memukau. Ia pertama kali melihat tokoh ini berorasi di depan universitas tempat ia menuntut ilmu. Ia akui orasinya memukau. Hanya ia tak percaya ternyata tokoh ini berhasil menang, menjadi kuda hitam dan menang.
Rakyat tempat ia tinggal butuh sosok baru. Pempimpin petahana dianggap tidak memuaskan. Gelar dan pengalaman yang lama tak memuaskan rakyat. Mereka ingin yang baru, tokoh ini datang dan memuaskan keinginan. Ia menang dan rakyat menunggu.
Selalu kemenangan dan kekalahah memberikan catatan. Dia akhirnya paham kenapa tokoh ini kalah. Mereka memang bekerja dengan keras dan ikhlas, namun mereka masih memakai cara yang tidak pas dengan zaman hari ini. Mereka terpukau dengan cara ketika dulu mereka menang di tempat ini. Kemewahan barisan yang rapih dan pelayanan yang tertib. Mereka lupa kali ini mereka sudah ditiru dan peniru sudah mengemas dengan lebih rapih dan profesional. Mereka lupa dan mereka kalah.
Kalah memang menyakitkan, siapa yang tak sakit ? saat anda merasa sudah mengerahkan kerja keras dan ternyata anda kalah. Kalah memberikan satu sisi yang lain, yaitu belajar. Para pembelajar terbaik paham betul mereka butuh mengalami kegagalan, kekalahan sementara untuk bisa bangkit dan belajar.
Hari ini ia mulai belajar. Belajar untuk memakai cara baru, bahasa baru, dan lebih penting mereka mempelajari bahwa mereka kumpulan orang yang tak letih belajar. Mereka kumpulan Daud yang belajar bahwa katapel yang kecil bisa mengalahkan jalut, sang raksasa dengan baju zirahnya.
Sudah siapkah katapel anda?
DPD PKS Siak - Download Android App