Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Muslim Myanmar Membuat Barikade Menahan Serangan

Muslim Myanmar Membuat Barikade Menahan Serangan


By: Abul Ezz Selasa, 07 Mei 2013 0

Muslim Myanmar


pkssiak.org - Tiga lelaki Muslim memancangkan pagar bambu sebagai barikade di desa mereka untuk mengantisipasi penyerangan yang merebak di Myanmar Tengah. Mata mereka menatap tajam persawahan kering yang menjadi batas desa mereka dengan wilayah yang dihuni komunitas Budha, memperhatikan bila ada kepulan debu pertanda akan datangnya serangan.
Saat itu tidak terjadi serangan, tapi sehari sebelumnya, sekitar 100 penganut Budha bersenjatakan tongkat telah berkumpul, mengancam akan membakar desa dan membunuh penduduknya,  ujar seorang penduduk Win Kite yang berjarak 2 jam perjalanan dari Yangon, kota terbesar di Myanmar.
Polisi berhasil menggagalkan serangan tersebut, tapi setelah serangan selama empat hari  yang dipimpin oleh Pendeta-pendeta Budha di Meikhtila menewaskan 44 orang yang kebanyakan Muslim dan memicu kerusuhan di Myanmar Tengah yang mengancam pemulihan ekonomi dan reformasi politik.
“Kami berencana untuk membela diri bila mereka kembali menyerang”, imbuh Kin So. Banyak penduduk Win Kite mulai mempersenjatai diri dengan tongkat dan pedang ketika pasukan keamanan ditarik dari wilayah mereka.
Pagar bambu setinggi 1,5 meter yang mengelilingi Desa Win Kite seakan menjadi gambaran jelas pembagian wilayah akibat konflik Muslim Myanmar dan mayoritas Budha, yang dapat menjadi pemicu konflik di wilayah Asia Tenggara.
Pada Jumat, 3 Mei 2013, Polri telah berhasil menggagalkan rencana penyerangan terhadap Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, menahan dua lelaki dan menyita sejumlah bahan peledak. Jurubicara kepolisian mengatakan bahwa mereka tersangka berencana menyerang sebagai protes atas penindasan Muslim Myanmar. Sedikitnya 192 orang, yang mayoritas etnis Rohingya, dibantai tahun lalu karena konflik dengan penganut Budha di wilayah etnis Rakhine. Pada April 2013, 8 orang meninggal ketika pengungsi Muslim dan Budha terlibat bentrok di kantor imigrasi Indonesia.
Pada 30 April, seorang lelaki terbunuh dalam kerusuhan di Oakkan, desa yang berjarak 100 km sebelah utara Yangon, setelah seorang wanita Muslim menabrak seorang pendeta Budha berusia 11 tahun dan merusak mangkok sedekahnya.
Pihak yang berwenang di Myanmar mengawasi sekecil apapun potensi konflik, yang dapat memicu kerusuhan lebih luas. Seorang pegawai pemerintah mengatakan telah membubarkan segerombolan orang yang berkumpul di Taikkyi, sebuah kota dekat Oakkan.
Juru bicara kepresidenan, Ye Htut menulis dalam facebook-nya bahwa pihak berwenang mencegah kerusuhan di Kota Mandalay saat tiga pengendera motor memasuki wilayah Muslim dan berteriak bahwa pendeta-pendeta Budha akan membakar rumah mereka.
Petugas keamanan segera mendatangi tempat tersebut dan mengatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan menjamin keamanan penduduk. Penyelidikan sedang dilakukan untuk menangkap pelaku provokasi.
Penahanan
Wakil Kepala Kepolisian Yangon, Thet Lwin, mengatakan bahwa 18 orang telah ditahan terkait atas kerusuhan di Oakkan, termasuk wanita yang dianggap menjadi pemicu dan dituntut atas “tindakan penghinaan terhadap agama yang disengaja”.
Sesuai peraturan yang berlaku, kami akan mengadili wanita yang dianggap sebagai pemicu kerusuhan tersebut, meskipun tabrakannya dengan pendeta Budha sebagai ketidaksengajaan, tapi pengadilan yang akan memutuskannya.
Di Desa Win Kite, 45 menit perjalanan dari Oakkan, 40 orang pasukan keamanan membuat pos untuk memastikan keamanan.
Pada Rabu, kepolisian berhasil mengahalau mundur kelompok yang datang dari Sa Phyu, sebuah desa berpenduduk Budha sekitar setengah jam perjalanan kaki dari Win Kite. Menurut sumber dari Sa Phyu, kepolisian berhasil mencegah penyerangan, menenangkan penyerang dan mereka berjanji untuk tidak menyerang.
Hasil investigasi Reuters mendapati pendeta-pendeta Budha yang radikal terlibat secara aktif dalam kerusuhan di Meikhtila pada Maret 2013. Sumber yang diwawancarai di Sa Phyu menolak adanya keterlibatan pendeta dan mengatakan tidak ada pertemuan atau komunikasi, semua terjadi secara spontan.
“Saat ini ada petugas kepolisian dan militer yang menjaga di Win Kite, kami aman,” katanya. “Tapi ketika petugas ditarik, kami tidak tahu apa yang akan terjadi.” (reuters.com)


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar