Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Ketika Presiden ber-Twitter | @asmanadia

Ketika Presiden ber-Twitter | @asmanadia


By: Abul Ezz Minggu, 14 April 2013 0

pkssiak.org - Awalnya saya kira hanya kicau sekawanan burung, tapi ternyata tidak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan segera membuka akun Twitter pribadi. Sebelumnya, hadir akun istana rakyat yang dalam 10 hari atau baru sekitar 64 kali meng-update status, sudah mendapat verifikasi dari Twitter.

Terlepas komentar-komentar negatif, kemunculan akun resmi istana kepresidenan, sampai dengan tulisan ini dihadirkan, telah menjaring lebih dari 40 ribu followers. Lalu, siapa yang berada di balik istana rakyat? Bisik-bisik di Twitter lagi, sambil menyebutkan sejumlah angka yang tidak murah, untuk sebuah akun mendapatkan verifikasi.

Saya memahami, sekalipun menampilkan detail istana dan berbagai hal yang lebih personal dari orang nomor satu di republik ini, tanpa verifikasi, masyarakat pengguna Twitter akan tetap diliputi keraguan. Mengingat ada lebih dari 24 akun Twitter yang mencomot nama ‘Presiden’

Pertanyaan yang lalu merebak, jika istana sudah terjun ke ranah Twitter, masih perlukah presiden memiliki akun sendiri? Didorong keinginan mendapatkan respons langsung, melalui akun Twitter pula, pertanyaan ini saya lemparkan dan menuai banyak sekali tanggapan.

Sejumlah anak muda—pengguna terbanyak saat ini—menyampaikan respons positif. “Keren kalau presiden punya Twitter. Jadi, kan bisa mensyen-mensyen-an sama presiden.” “Asyik, boleh minta di-folback (follow balik) sama presiden, nggak ya?”

Sementara satu pemimpin redaksi media nasional menyambut baik, “Perlu, dong. Pertanda terbuka.” "Perlu, supaya presiden bisa mendengar ‘kegalauan’ dan aspirasi langsung rakyatnya." "Selama presiden nggak curhat, nggak apa. Sebab curhat itu hak rakyat!"

Sebagian lagi mempertanyakan efektivitasnya, mengingat sebelumnya ada saluran SMS ke presiden. Sempatkah presiden dan staf membaca mention yang mungkin ribuan atau lebih setiap harinya, lalu menanggapi yang perlu?

Di sisi lain muncul nada pesimistis, jika aktivitas Twitter presiden hanya akan menjadi ajang pencitraan, bukan sebagai media alternatif untuk berinteraksi dengan rakyat. “Lebih baik buktikan bahwa dia bisa menyejahterakan rakyat, daripada twitteran.”

Penolakan lainnya terkait posisi Presiden saat ini yang merangkap ketua umum partai. "Siapa yang nanti ‘berkicau’, Presiden atau ketua partai?" Beberapa penghuni twitterland juga khawatir kebebasan mereka terancam. “Nanti kena pasal penghinaan presiden,” kicau seseorang, “khawatir main tangkap.” Lanjutnya.

Membaca banyak tanggapan di atas, diam-diam muncul perasaan yang tak terpikirkan sebelumnya. Rasa syukur, untung saya bukan presiden, yang segunung amanah ada di pundaknya. Jika orang lain hanya bertanggung jawab terhadap diri sendiri atau sekian orang, beliau harus bertanggung jawab akan kelangsungan sebuah negara dengan lebih dari 200 juta penduduk. Dan dituntut tanpa cela.
Seorang presiden yang seharusnya bisa memiliki apa pun—jika diinginkan—ternyata kehilangan hal-hal sederhana. Urusan membuka akun Twitter yang sah-sah saja, bisa menuai pro kontra. “Jika presiden negara-negara lain boleh memiliki akun Twitter, selama mampu mengatur waktu dan tidak melalaikan kewajiban, mengapa tidak?” lugas seseorang.

Hari demi hari, memang kian banyak pejabat dan politisi Tanah Air yang menganggap penting eksistensi mereka di dunia Twitter. Sebut saja Prabowo, Dahlan Iskan, Hatta Rajasa, dan Tifatul Sembiring. Banyak yang sepertinya mengelola sendiri, dan terlihat menikmati interaksi dengan followers. Rajin menjawab sapa. Tidak tersulut meski kadang mendapatkan kalimat pedas. Bahkan, tidak sungkan meminta maaf jika terselip kesalahan.

Mungkin menyadari bahwa komentar-komentar negatif itu adalah harga yang harus dibayar untuk bisa terus memanfaatkan Twitter sebagai sarana menyampaikan kabar baik dan prestasi membanggakan, yang mungkin selama ini tertimbun banyaknya kritik. Jadi, benarkah sudah saatnya presiden memiliki akun Twitter sendiri? Seharusnya malah sudah dipertimbangkan sejak dulu.

Sebagai penulis, saya merasa banyak yang bisa dibagikan seorang pemimpin negara kepada rakyat, melalui Twitter. Pengalaman, wawasan, tantangan yang dihadapi. Lewat status-status Twitter pula, rakyat menjadi tahu dan bisa melihat sendiri bagaimana presiden dan pejabat pemerintah mereka bekerja.
Tetapi di sisi lain, kalimat Bisma, salah satu personel boyband, boleh juga diingat baik-baik: Jangan terlalu serius di Twitter. Sebab, Twitter seperti berbagai bentuk sosial media, sedikit banyak merupakan miniatur kehidupan.

Di sana kita menemukan pribadi-pribadi baik, pejuang gerakan kemanusiaan. Ada juga para pakar dan pengusaha yang berbagi ilmu dan pengalaman, serta mereka yang mencintai dan tulus peduli akan negeri ini. Tapi jangan lupa, hadir juga para petualang yang gemar membuat kerusuhan dan siap mencuri keuntungan di setiap kelengahan.

Dan sebagaimana dalam kehidupan, kata-kata bisa menjadi senjata, juga petaka. Karenanya, penting untuk menghilangkan sensitivitas yang berlebihan, selain membuat sebuah kehadiran yang apa adanya serta terasa jelas manfaatnya. Dengan begitu, semoga perlahan bisa menebalkan keyakinan rakyat, bahwa mereka didengar dan dicintai oleh pemimpin negeri ini.


Asma Nadia 

*http://www.republika.co.id 


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar