Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Bidadari-Bidadari Dunia, Siapakah Dia? | by @MinieBintis

Bidadari-Bidadari Dunia, Siapakah Dia? | by @MinieBintis


By: Abul Ezz Rabu, 17 April 2013 0





Rusmini Bintis
Medan



pkssiak.org - Bidadari merupakan  simbol kesucian, keagungan, kemuliaan dan ketinggian. Siapapun yang berfikir tentang  bidadari, maka yang tergambar adalah segala yang indah –indah. Kenikmatan yang sekuat apapun saat dibayangkan, tidak akan sanggup terlintas oleh mata, kemerduan suara yang tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.
Begitu indah tampilan bidadari yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Telapak tangan yang lembut, aroma tubuh yang harum semerbak, rambut yang wangi, wajah dan mata yang bersinar cemerlang, bola matanya indah penuh pesona. Tatapannya sanggup menggetarkan hati yang memandang.
Tidak hanya fisik yang menawan, akhlak bidadari surga berada dalam ketinggian perilaku. Dalam Q.S Ar Rahman Allah menjelaskan bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangan, seakan-akan biadadari itu adalah permata yakut dan marjan.
Bidadari surga yang dimaksud berjenis kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan ungkapan bahwa perempuan dapat mengubah dunia. Bukan karena  fisik yang kuat dapat mengalahkan militer, tapi karena kecantikan fisik/ fisikis yang ia miliki seperti sihir.
Realita keagungan bidadari mendistorsi keterangan para pemuja feminisme yang menganggap bahwa tubuh perempuan adalah hak untuk boleh diobral murah, bahkan oleh sesama jenis. Bertolak belakang dengan bidadari surga dan perempuan shalihah, ia terbiasa menundukkan pandangan, matanya tidak liar, hanya memandang yang baik- baik saja.
Selain itu, bidadari bukan sosok perempuan yang mudah dipegang- pegang. Ia hanya bisa dipegang oleh pemiliknya. Bidadari beretalasekan surga hingga ia tidak pernah dijamah oleh sipapaun. Maka etalase perempuan shalihah adalah iman dan ketaqwaan yang mendalam.
Ada yang Berbeda
Terdapat korelasi antara perempuan shalihah dengan bidadari surga. Yaitu sama-sama terjaga dan digambarkan sebagai sebaik-baik perhiasan. Memikirkan derajad bidadari yang tinggi di surga membuat para perempuan dunia cemburu padanya.
Abu Hayyam dalam tafsirnya, Al-Bahrul Muhith menyatakan bahwa bidadari surga diciptakan oleh Allah sedemikian rupa tanpa ada proses kelahiran. Allah katakan jadi, maka jadilah. Berbeda dengan proses kejadian manusia yang tidak terlahir secara instan.
Kelahiran manusia berawal bukan sejak ibu mengandung, tetapi sejak pemilihan pasangan suami atau istri. Ibarat ladang yang subur namun ditanami bibit yang buruk, maka hasilnya tidak akan baik. Atau sebaiknya, bibit yang unggul ditanam pada lahan yang tandus, maka tanaman itu akan kerontang. Buah jatuh tidak jauh dari pohon.
Pilihan yang terbaik adalah saat tanah yang subur ditanami dengan bibit yang unggul. Komparasi yang baik. Maka lahirlah generasi –genarasi yang unggul. Sehat fisiknya, cerdas akalnya, berakhlak mulia perilakunya dan menebar kebaikan bagi sesama.
Pelajaran bagi setiap perempuan untuk terus memperbaiki keshalihan, karena janji Allah pasti. Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu sebaliknya. Kembali kepada proses penciptaan manusia. Makhluk Allah yang mampu merakit dan merangkai teknologi canggih ternyata berasal dari hal yang sangat hina yaitu nutfah (air mani).
Walaupun sama-sama perhiasan, perempuan shalihah dan bidadari surga memiliki derajad yang tidak sama di sisi Rabb nya.  Sungguh Allah Maha adil, Ummu Salamah wanita cerdas yang Allah pilih sebagai perwakilan menyuarakan aspirasi suluruh perempuan. Pandangan Ummu Salamah yang jauh ke depan memikirkan nasib perempuan shalihah di surga.
Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah berlandaskan Qs. Ash-Shaffat ayat  48 yang mengatakan bahwa bidadari surga bermata jelita. Ia khawatir kecantikan wanita shalihah di surga kelak akan dikalahkan oleh bidadari surga, tentu suami-suami mereka akan cenderung menjauh padanya. Ups*…
Berikut dialog yang menentramkan hati para perempuan dan menambah keyakinan akan Keagungan Allah.
Ummu Salamah bertanya, "Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia yang shalihah ataukah bidadari bermata jelita?

Rasulullah menjawab, "Wanita-wanita dunia yang shalihah lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat”.

Sungguh, berita yang disampaikan Rasulullah begitu membahagiakan hati. Ummu Salamah semakin yakin dan kembali bertanya "Mengapa perempuan shalihah lebih utama daripada bidadari?

“Karena sholat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaianya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas”.
Wajah Ummu Salamah semakin berseri atas jawaban Rasulullah, bahkan manusia agung sejagad raya itu pun menerangkan bahwa para perempuan shalihah ahli surga, mereka akan berkata,   “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut - sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya…”
Rasulullah ketika berbicara selalu dibimbing oleh Allah, perkataannya bukanlah kebohongan, melainkan petunjuk dalam menapaki liku kehidupan. Allah Maha adil, kedudukan wanita shalihah lebih mulia dari bidadari surga karena pertarungan dan jual beli yang ia lakukan.
Siapakah Dia???
Perempuan shalihah diciptakan tidak secara instan sebagaimana bidadari surga. Setelah Allah menakdirkan siapa yang akan menjadi ayah dan ibunya, wanita shalihah berjuang sejak dalam kandungan ibu. Berlomba-lomba menembus rahim yang sangat kokoh.
Dalam kandungan ia mulai belajar mandiri. Belajar sejak usia 12 minggu. Ia belajar bereksplorasi menyentuh kepala, memegang tali pusat dan memiliki refleksi menendang. Usia 24 minggu ia mulai berkedip dan mulai mendengarkan suara sayu-sayu.
Sesekali ia menceguk dan merasai air ketuban ibu. Usia 28 minggu ia telah memiliki memori otak, ia mulai bisa mengingat apa yang diperdengarkan ibu, apakah suara musik, murottal Al- Qur’an ataukah suara makian. 33 minggu ia bisa mulai bermimpi dalam tidur. Pada akhirnya, perjuangan dalam perut ibu berakhir setelah usia 40 minggu, ia siap melihat dunia dan terlahir.
Perjuangan wanita shalihah tidak sampai disitu, bagi yang terlahir dari keluarga muslim ia diuji oleh Allah dengan keyakinan/ iman karena ikut-ikutan orang tua ataukah benar- benar yakin 100% akan Islam. Bagi yang terlahir tidak dari keluarga muslim, maka ia harus menemukan kebenaran yang hakiki.
Hingga masa remaja dan dewasa, Allah uji dengan kemiskinan, kepayakan, kelaparan. Diuji dengan sakit, broken home atau bahkan ujian lewat lawan jenis. Ia harus menahan lapar saat yang lain makan di bulan Ramadhan, melaksanakan shalat fardlu, menutup aurat saat yang lain memamerkan lekuk tubuhnya. Masih banyak lagi ujian yang datang.
Dalam perjuangan mendapatkan predikat shalihah dari Allah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sudah lewat satu ujian, maka datanglah ujian selanjutnya. Terkadang Allah uji pula dengan kesenangan, bergelimangan harta, wajah yang rupawan dan sebagainya.
Artinya, setiap waktu Allah uji. Dimanapun dan kapanpun kita berada. Semakin tinggi keimanan seorang perempuan, maka akan semakin tinggi pula tingkatan ujian yang dihadapi. Karena surga juga bertingkat- tingkat.
Maka beruntunglah bagi setiap perempuan shalihah yang Allah pilih untuk bisa duduk berdampingan dengan para sahabiyah /sahabat, berjumpa Rasulullah dan melihat Allah di surga Firdaus. Itulah sebaik-baik tempat tembali.
Maha suci Allah yang telah memuliakan derajat perempuan dengan menjadikannya sebaik-baik perhiasan di dunia dan akhirat. Allah saja yang Maha pencipta, menjunjung tinggi harkat perempuan, lalu mengapa kita justru berpaling dan menghinakan diri dengan kebathilan. Memilih kehinaan dengan pacaran sebelum menikah, meninggalkan shalat, menggunjing, sombong dan acuh tak acuh terhadap Islam. 
Hanya orang-orang yang berfikir yang mampu mengambil pelajaran dan hikmah atas setiap apa yang ia baca, apa yang ia lihat, dan ada yang ia dengar.

Wallahu ‘alam


*penulis: @MinieBintis on twitter


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar