Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » PKS Memang Beda, Benarkah?

PKS Memang Beda, Benarkah?


By: Abul Ezz Minggu, 31 Maret 2013 0


Sejak kelahirannya tahun 1998 yang waktu itu bernama Partai Keadilan, partai ini memang sudah beda. Berawal dari kelompok pengajian yang dikenal dengan istilah Liqo dan Tarbiyyah, kemudian bermetamorposis menjadi partai politik. Pada awal berdirinya PKS tidak mempunyai banyak kader, akan tetapi para kader waktu itu mempunyai keyakinan bahwa kelak partai ini akan menjadi partai yang diperhitungkan serta banyak memberikan kontribusi pada bangsa dan negara Indonesia.
Bermodal semangat/tekad yang kuat serta disokong oleh kader yang loyal dan solid, PK terus mendapat dukungan terutama dari kalangan Mahasiswa dan pemuda. Sehingga partai ini diidentikan dengan partai anak muda. Perjuanganpun tidak berakhir ketika pada pemilu 1999 PK hanya memperoleh suara nasional kurang dari 2 % dan hanya mendapat 7 kursi di DPR. Tetapi perjuangan tidak berhenti sampai disitu, walau harus mengganti nama menjadi PKS karena tidak memenuhi ambang batas minimal parlemen.
Pada pemilu 2004 PKS berhasil mendudukan 45 kadernya di DPR dan pada pemilu 2009 PKS mendapat 57 kursi di DPR. Sejarah dan prestasi tersebut penulis sajikan sebagai pembuka dari tulisan ini.
PKS memang beda !
Bedanya di mana ? kan sama saja partai politik juga. Ujung-ujungnya paling kekuasaan.
Memang tidak dapat dipungkiri berdirinya suatu PARPOL adalah untuk kekuasaan. Karena untuk merubah kondisi suatu bangasa kearah yang lebih baik tentunya, tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan kekuasaan. Hal ini pula yang menjadi tujuan PKS. Walaupun tujuannya kekuasaan akan tetapi ada yang beda dengan PKS . Apa tuh ??
1. Jabatan kepemimpinan apapun  kader PKS melihat hal itu semata-mata sebagai amanah.
2. Dalam aturan organisasi suadah diatur bahwa kader PKS tidak boleh rangkap jabatan. Buktinya mana ?
Ketika Presiden PK, Nurmahmudi Ismail diangkat menjadi Menteri kehutanan, ia langsung mengundurkan diri sebagai Presiden PK yang kemudian digantikan oleh Hidayat Nurwahid. Begitu pula ketika Hidayat Nurwahid terpilih menjadi ketua MPR, ia mengundurkan diri sebagai Presiden PKS yang kemudian digantikan oleh Tifatul Sembiring dan ketika Tifatul sembiring diangkat menjadi menteri kominfo, ia kemudian mengundurkan diri dan kemudaian digantikan oleh Lutfi Hasan Ishaq begitu pula Ketika LHI dikatakan oleh KPK sebagai tersangka, ia pun mengu mengudurkan diri dan fokus pada masalah hukum yang ia hadapi. Kemudian Anis Matta menggantikannya.
3. Kaderisasi berjalan baik. buktinya adalah sebagaimana ada pada poin ke dua.
4. Proses pemilihan pengurus partai ditentukan oleh majelis syuro. Pengurus partai bahkan ketua umum/presiden partai tidak mencalonkan diri, akan tetapi ditunjuk oleh majelis syuro.
5. Mempunyai kader yang kreatif dan rela berkorban walau harus mengeluarkan dana sendiri untuk kegiatan partai.
Sekarang silahkan tengok partai lain. Apakah mekanisme dalam memilih ketua umum partai bisa sesederhana PKS ? Apakah mereka calon ketua umum ditunjuk langsung atau mencalonkan diri ? Apakah mereka berani menanggalkan jabatan sebagai ketum ketika menjadi ketua DPR, MPR, Menteri atau Presiden ?
Silahkan dianalisis. Penulis menyajikan artikel ini sebagai bahan komparasi. Silakan pembaca yang menilai.
 
Encep Mulyadi  


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar